17 Tempat Makan Enak di Pontianak dan Singkawang (part 1)


Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa suatu hari gue akan ke Pontianak untuk berlibur. It's just.. out of the vacation radar gitu lho.. Jarang banget gue denger orang mau liburan ke Pontianak. Ke Pontianak untuk pulang kampung sih sering. Tapi liburan? Apalagi kulineran? Hampir ga pernah.

Tapi itu semua berubah ketika gue nonton film Aruna & Lidahnya bulan September kemarin. 

Aruna & Lidahnya bercerita tentang dua sahabat, Aruna (Dian Sastro) dan Bono (Nicholas Saputra) yang passionate banget sama dunia kuliner. Kebetulan, Aruna ditugaskan ke Surabaya dan Pontianak untuk meneliti wabah flu burung. Tau bahwa ada banyak makanan enak di Surabaya dan Pontianak, Aruna pun mengajak Bono untuk turut serta dalam perjalanan dinasnya, supaya mereka bisa sekalian kulineran.

Singkat cerita, Aruna & Lidahnya bikin Pontianak jadi terlihat seksi banget. Cara Aruna dan Bono men-describe makanannya dan pengambilan gambarnya bikin gue langsung pengen pergi ke Pontianak untuk mengikuti jejak kuliner mereka.

Lalu kuajaklah dua sahabat makanku untuk turut serta dalam perjalanan yang kami dedikasikan khusus untuk makan sebanyak-banyaknya ini. Dua kota kami kunjungi dalam perjalanan 3 hari 2 malam, Pontianak dan Singkawang, dan total kami berhasil makan sebanyak 26 menu di 17 tempat. Wow. Fantastis! Kami pun terkejut!


And you know what, 26 makanan yang kami makan di Pontianak itu ngga ada satupun yang ga enak. Semuanya enak-enak! Gila.

Herannya, gue ga pernah denger Pontianak "dinobatkan" sebagai destinasi kuliner di Indonesia. Surabaya, Medan, Jogja, Bandung, atau Bogor, sering. Tapi coba googling "destinasi kuliner Indonesia". Kalian bakal jarang banget nemu nama Pontianak dan Singkawang di sana. 

Tapi setelah makan di 17 tempat makan itu dan cuma ada satu yang kurang oke, dengan ini gue menyatakan Pontianak dan Singkawang sebagai the underrated Indonesian culinary destination that you should definitely visit. Definitely. It's a gem.

Makanannya hearty dan comforting banget. Bumbunya ga ada yang kenceng atau menonjol banget kayak makanan Padang, Bali, atau Makassar. Tapi rasanya tetap flavorful. Somehow, karakter makanan di Pontianak dan Singkawang ini mengingatkan gue akan makanan Vietnam yang ga bakal bikin bosen walaupun dimakan setiap hari. Plus point, makanannya juga terasa sehat karena minim minyak dan goreng-gorengan.

Oke, tanpa lebih lama menunda lagi.. Izinkan saya untuk memperkenalkan 17 tempat makan enak dan legendaris di Pontianak dan Singkawang yang bikin gue jatuh cinta.


1. Aliong Singkawang, Jalan 28 Oktober, Pontianak
Ini adalah makanan pembuka kami setibanya di Pontianak. Direkomendasikan driver kami dalam perjalanan menuju Singkawang, kami lalu memesan Bakmi Kepiting dan Mie Tiau yang khas Pontianak banget. Rasanya enak, cuy. Bakminya alus, kerupuk babinya garing banget. Sementara Mie Tiaw-nya juga enak dengan mie tipis-tipis gitu. Makanan pembuka yang memuaskan lah pokoknya.



2. Nasi Campur 33, Jalan Mempawah-Sei Duri, Pontianak
Selang kurang lebih tiga jam kemudian, kami kembali lapar dan mampir di sebuah restoran yang menyediakan nasi campur dan nasi "warteg" dengan berbagai pilihan menu babi, ayam, dan ikan. Not that impressive, but not bad either. Lumayan lah untuk mengenyangkan perut yang meronta-ronta minta makan.



3. Bakso Sapi Bakmi Ayam 68, Singkawang
Malamnya di Singkawang, kami makan di tempat di mana Dian Sastro makan dengan Oka Antara, Restoran Bakso Sapi dan Bakmi Ayam 68. Berdiri sejak 1977, restoran yang ternyata dimiliki oleh saudara aktor laga Willy Dozan ini menyediakan bakmi dan bakso halal yang topping-nya melimpah ruah dan halal. Highlight-nya adalah daging ayamnya yang bumbunya nendang banget, sementara mie-nya sendiri agak terlalu asin buat gue.



4. Bubur Babi Pasar Turi Aloi, Singkawang
Esok paginya, kami sarapan dengan salah satu makanan ter-humble, ter-hearty, dan ter-memorable yang pernah gue rasakan. 

Walau namanya bubur, sebetulnya ini adalah nasi yang dikuahin, lalu dikasih topping daging babi beserta jeroannya, plus telur. Rasanya, aduh. Cocok buat makan waktu sakit. Enak banget.

Setelahnya, kami makan Apam Pinang yang dijual persis di depan Bubur Babi Aloi ini. 

Apam Pinang adalah martabak mini kalau di Jakarta. Tersedia dalam 3 rasa: cokelat, keju, dan srikaya. Rasanya kejunya sebetulnya bisa lebih enak kalo pake keju yang mahalan dikit. Tapi ya, dengan harga Rp5000 per piece, lu berharap pake keju apa, sis? Anyway, rasa srikayanya uwow banget tapinya. Enak banget! Parah. Bikin gue ngidam terus jadinya.

Uniknya, Apam Pinang ini beda treatment-nya sama martabak di Jakarta. Kalo di Jakarta mentega ditaro segambreng pas kuenya mateng, kalau ini menteganya udah dicairin dulu dan dituang pas proses masak berlangsung. Selain itu, ukurannya yang kecil juga bikin kita jadi bisa makan lebih banyak dan mencoba rasa yang lebih variatif.



5. Choi Pan Tho Ce, Rumah Sejarah Marga Tjhia, Singkawang
Lanjut ke kuliner berikutnya, pagi itu kami mampir ke Rumah Sejarah Marga Tjhia untuk wisata sejarah, sekaligus untuk mencoba choipan-nya. Lagi-lagi, yang dimakan Aruna dan Farish di "kencan" pertama mereka.

Rumahnya klasik dan cantik banget. Tapi sayangnya, buat gue choipan-nya kurang enak. Sambelnya mantap, tapi choipannya kurang banget. Tapi ya, dengan harga Rp1500/piece dibandingkan harga Rp4000 yang gue beli di Jakarta, sebenernya gue ga bisa berharap banyak juga sih.

Loc: https://goo.gl/maps/1RqidREvNSC2

--------


Share:

0 comments