Taman Nasional Bantimurung: Tenang-Tenang Menghanyutkan


Kalian pasti sering mendengar peribahasa, "tenang-tenang menghanyutkan" kan? Peribahasa ini biasanya ditujukan untuk orang yang jarang berbicara, tapi sekalinya berbicara, kata-katanya sangat dalam (atau banyak pengetahuannya). Atau bisa juga ditujukan ke orang yang terlihat sangat tenang, tapi perbuatan dan perkataannya sangat bijaksana, sehingga orang-orang yang mendengarnya seolah-olah "terhanyut" di dalamnya.

November 2013 kemarin, saya melihat "tenang-tenang menghanyutkan" dalam bentuk sebuah sungai dan danau. Air sungainya berwarna biru terang, hampir seperti warna biru langit. Sementara danaunya berwarna hijau, seperti hijaunya daun. Danau dan sungai itu berada di dalam Taman Nasional Bantimurung, Makassar.


Sebetulnya, danau ataupun sungai ini bukanlah "atraksi" utama dari Taman Bantimurung yang memang lebih dikenal karena karst, goa-goa dengan stalaknit/stalakmit yang indah, dan kupu-kupunya. Tapi, dari sekian banyak cerita yang disampaikan pemandu di sana, saya justru malah sangat tertarik dengan cerita di balik danau dan sungai yang sangat cantik ini. Kenapa? Biar saya ceritakan kembali apa yang diceritakan pemandu di sana..

Agak jauh masuk ke dalam taman, setelah menaiki sekitar 200 anak tangga dan berjalan kurang lebih 2km, kita akan menemukan sebuah danau berwarna hijau yang tenang sekali. Pemandangan sekitarnya pun sangat cantik. Ada air terjun kecil di sana yang cukup deras, tapi air terjunnya pun bukanlah air terjun yang besar. Tapi kalian percaya ngga, kalau air terjun kecil dan danau yang tenang ini menelan banyak korban jiwa?


Danau ini bernama Danau Kassi Kebo dan danau ini sudah ditutup sejak tahun 2009 karena banyak yang tidak selamat setelah bermain-main di sana. 

Ternyata, air terjunnya yang kecil itu menipu pandangan mata, begitupun aliran danau yang tenang sekali seolah-olah tidak ada pergerakkan di bawahnya. Tapi, apa yang tidak terlihat memang lebih berbahaya. Pemandu kami bilang bahwa pusaran air di bawah danau berputar sangat cepat dan kencang, begitupun air terjunnya, sehingga banyak yang bermain di sekitar air terjun "tersedot", terbawa arus, dan menghilang. Terlihat sangat tenang, tapi betul-betul menghanyutkan.

Danau ini kemudian bermuara ke sebuah sungai yang juga tidak kalah cantiknya. Airnya berwarna biru dan juga hijau di beberapa bagian. Sangat cerah dan sangat memanjakan mata. 


Sungai ini kemudian mengalirkan airnya ke ujung dan menjadi Air Terjun Bantimurung. Warna airnya cantik sekali: biru dan hijau. Tapi sama seperti Danau Kassi Kebo, aliran sungai ini terlihat sangat tenang, tapi kalian pasti akan kaget begitu melihat betapa derasnya aliran air terjun di bawahnya.


Mungkin memang seperti itu cara kerja air terjun dan sungai, saya tidak tahu. Tapi yang pasti, sungai ini juga menggambarkan definisi sesungguhnya dari "tenang-tenang menghanyutkan". Mengapa? Karena sungai ini berisikan "ikan-ikan yang jahat". 

Saya ingat, waktu itu saya bertanya pada pemandu itu, apakah di sungai ini banyak ikannya? Lalu ia menjawab, "Iya". Saya kemudian iseng bertanya lagi, apakah penduduk sekitar atau bahkan turis memancing lalu memakan ikan tersebut? Jawabannya adalah tidak. Kalian tahu kenapa? 

Karena katanya, korban-korban yang tenggelam di Danau Kassi Kebo banyak yang tidak nampak terbawa arus sungai dan tidak bisa ditemukan mayatnya, sehingga orang-orang sekitar berpikir bahwa ikan-ikan yang ada di dalam sungai itulah yang memakan tubuh para korban tersebut. Akibatnya ya, tidak ada yang mau menangkap apalagi memakan ikan-ikan yang ada di sungai itu, karena jijik membayangkan apa yang ikan-ikan itu makan. Seperti film Piranha ya? 

Share:

0 comments